"Mengingat bodohnya dunia, dan kita masih saja berusaha."
Masih mencari, apa yang aku tuju dari semua apa yang aku lakukan saat ini.
Masih terbayang, akan jadi apa aku dikemudian hari.
Memori kala kecilku terus teringat seiring aku menginjak usia baru.
Melihatnya terputar di kepala, tapi juga melihatnya di mata, lantas.. mata dimana itu? .....
Masih terpikir juga, kejadian hari ini.
Hari ini, aku mengalami hal yang dramatis.
Hal itu masih kupikirkan sampai sekarang....., aku masih berpikir apa yang aku pikirkan tadi.
Hari ini, aku merasakan sesuatu yang baru dan nyata rasanya.
Hanya saja, aku masih bingung kenapa aku merasakan hal ini.
Hari ini, ketika aku pulang dari sekolah, mendengar bel pulang sekolah perasaanku senang.
Menuruni anak tangga untuk berjalan ke gerbang, aku mulai resah.
Keluar dari gerbang, aku sudah resah.
Walaupun resah, aku tetap sempat membeli es krim, sih.
Jalan terus, hatiku berdetak kencang, seakan aku menghilangkan uang berjuta-juta.
Duduk sebentar menikmati es krim, aku bengong.
Jalan pulang, aku mulai merasakannya.
Tas di pundakku yang awalnya tak seberapa beratnya, mendadak seperti ada batu di dalamnya.
Hatiku yang tetap berdetak dengan kencang juga mengiringi langkahku.
Nafasku juga jadi terengah-engah seperti baru saja lari maraton.
Kakiku pun terasa berat.
Tatapanku bengong.
Ketika aku melihat ke gawaiku, rasanya aku sudah berjalan 1 km, tetapi nyatanya hanya 1 cm.
(Bahkan ketika ini terjadi... aku menggumam.. apa yang sedang terjadi??)
Terasa lamban sekali perjalanan pulangku hari ini.
Dan aku, masih belum tahu kenapa.
Sampai detik ini aku menulis ini pun......
aku tak tahu apa-apa.
Aku yang biasanya menunggu mobil untuk lewat lebih dulu sebelum aku menyebrang,
entah darimana keberanianku tadi, untuk mengangkat tanganku, mengisyaratkan aku minta waktu untuk menyebrang ke kendaraan itu.
Aku jalan... terus jalan..
Nafasku sudah bisa terkendali, namun kakiku semakin lamban. Entah darimana juga, rasa sakit di perutku muncul. Oh Tuhan, apakah ini?
Air mata yang merengek keluar juga aku lepaskan beberapa, meski aku tak tahu mengapa.
Aku membiarkan angin menerpa wajahku. Dengan jalan modelan siput seperti itu, Bunda pasti sudah marah-marah, khawatir masuk angin. Untungnya aku sendiri.
Biasanya jalanku yang bersemangat seperti pemimpin senam yang lihai dalam menggerakkan kakinya, aku tampak seperti pemimpin senam yang sedang sakit otot ketika berjalan pulang.
Mukaku yang sedikit menggerutu dan bengong, bahkan di pandang sinis oleh kucing oranye.
Awas kau kucing oren.
Hari ini.... tak biasa.
Banyak yang bilang,
"Kemarin itu kenangan,
Hari ini itu hadiah,
Besok itu misteri."
Tapi bagiku...
Hari ini....
...adalah misteri.
24/05/2023
Tidak ada komentar:
Posting Komentar