Perkenalkan, 'Kopitiam'.

Perkenalkan.

Sabtu, 17 Mei 2025

Melukai Diri Sendiri

 Angan-angan yang menari, ternyata bisa menusuk hati.

Di sinilah aku, di sudut kamar petakku. Memandang kosong ke arah depan, dengan hati tercabik-cabik. Lihat, betapa kejamnya bayanganku sendiri mencabik-cabik ulu hatiku. Efeknya, aku pun merasakan rasa sesak di dada. Air demi air menetes dengan ringan dari kedua kelopakku. Tak sopan mereka karena tak meminta izin, main lolos begitu saja. 

Setiap aku berkedip, bayanganku meremas hatiku dengan sekuat tenaga. Entah apakah ia jahil atau itu adalah perintah dari otak. Bayanganku adalah angan-angan yang selalu tersimpan di hati. Sekalinya ia keluar karena kekecewaanku pada apa yang terjadi sebenarnya, maka ia akan marah. 

Kemarahan bayang-bayangku dilampiaskan pada hati malang milikku. Tentu rasanya sakit, sekali.

Bayangan, angan-angan, harapan kepada seorang insan di dunia. Seorang itu bisa dikatakan sebagai orang yang tidak peka, atau pura-pura tidak tahu saja dengan perasaanku. Aku telah memendam perasaan padanya, berapa lamanya biar aku simpan sendiri. Namun, dahulu aku sudah biasa memendam rasa padanya, memuji ia dalam diam, terkagum dalam diam, menyisipkan bumbu cinta di setiap tindakanku padanya, tapi entah mengapa saat ini rasanya berbeda. 

Entah perasaanku yang sudah berubah atau perasaan ini hanya tertimbun. Lamanya aku memendam, aku tak pernah mengungkapkan perasaanku padanya. Sederhana saja alasannya, aku tak ingin hubunganku dengannya berakhir dengan hawa dingin yang mencekam. 

Namun, pertanyaanku sekarang... apakah memendam rasa itu memang bisa membuat kita melukai diri sendiri, ya?

Sabtu, 03 Mei 2025

Kapan

 Kesedihan yang masih kuanggap abadi ini, kapan berakhirnya?

Perasaanku tak jelas, naik turun seperti nilai semester akhir ini. Kemarin aku bahagia, tadi pagi aku merenung, saat ini aku membeku. Dengan suara dari segala arah di kepala, aku jadi banyak berpikir. Bahkan jika aku diperbolehkan untuk menatap alam dengan kosong, aku akan. Kepala sebelah kanan mengeluarkan suara ini, sebelah kiri suara itu, semuanya menjadi satu. 

Di sisi lain aku juga sibuk berandai akan titik penghabisan rasa sedihku terhadap insan itu. Kemarin ia menghilang dari benakku, malamnya kembali lagi. Lebih malam lagi, aku terbayang-bayang hingga pagi. Dan di sinilah aku berakhir, pada siklus yang aku ciptakan sendiri. Memang ya, jika sudah berdiri dari tempat duduk di rumah makan dan hendak ke kasir lalu pergi, seharusnya aku tak duduk lagi.

Aku manusia, aku penasaran, dan aku kembali lagi ke tempat dudukku setelah membayar di kasir. Sebenarnya bisa langsung meninggalkan tempat makan dan tidak pernah kembali, tapi tempat duduk itu sangat membuatku penasaran, jadi aku berulang kali mengunjunginya dalam diam. Tapi lama-lama, terduduk di sana, mengamati dan bercengkrama dengan suasana sekitar, aku jadi tahu hal-hal yang melukai diriku sendiri. Jadi aku di tempat duduk itu, terduduk dengan kesakitan, dalam diam.

Sebuah tulisan abstrak tanpa arah ini yang aku suka. Tapi beberapa kata orang, karya sebuah seniman ataupun penulis itu mencerminkan pembuatnya. Dengan demikian, apakah aku..?

Tak tahu lah. Yang terpenting, aku percaya dengan takdir dan tulisan yang sudah Tuhan buat untuk masing-masing ciptaan-Nya. Dan bagianku, aku pasrahkan sepenuhnya pada-Nya. Kadang mau tak berusaha, namun aku ingat betul ada yang berkata kepada orang tak pernah berusaha, "Percuma pasrah tapi ndak ada usaha, sama saja tong kosong nyaring bunyinya." 

Jadi... kapan kesedih, kegelisah, dan ke- -an lainnya akan reda?