Kesedihan yang masih kuanggap abadi ini, kapan berakhirnya?
Perasaanku tak jelas, naik turun seperti nilai semester akhir ini. Kemarin aku bahagia, tadi pagi aku merenung, saat ini aku membeku. Dengan suara dari segala arah di kepala, aku jadi banyak berpikir. Bahkan jika aku diperbolehkan untuk menatap alam dengan kosong, aku akan. Kepala sebelah kanan mengeluarkan suara ini, sebelah kiri suara itu, semuanya menjadi satu.
Di sisi lain aku juga sibuk berandai akan titik penghabisan rasa sedihku terhadap insan itu. Kemarin ia menghilang dari benakku, malamnya kembali lagi. Lebih malam lagi, aku terbayang-bayang hingga pagi. Dan di sinilah aku berakhir, pada siklus yang aku ciptakan sendiri. Memang ya, jika sudah berdiri dari tempat duduk di rumah makan dan hendak ke kasir lalu pergi, seharusnya aku tak duduk lagi.
Aku manusia, aku penasaran, dan aku kembali lagi ke tempat dudukku setelah membayar di kasir. Sebenarnya bisa langsung meninggalkan tempat makan dan tidak pernah kembali, tapi tempat duduk itu sangat membuatku penasaran, jadi aku berulang kali mengunjunginya dalam diam. Tapi lama-lama, terduduk di sana, mengamati dan bercengkrama dengan suasana sekitar, aku jadi tahu hal-hal yang melukai diriku sendiri. Jadi aku di tempat duduk itu, terduduk dengan kesakitan, dalam diam.
Sebuah tulisan abstrak tanpa arah ini yang aku suka. Tapi beberapa kata orang, karya sebuah seniman ataupun penulis itu mencerminkan pembuatnya. Dengan demikian, apakah aku..?
Tak tahu lah. Yang terpenting, aku percaya dengan takdir dan tulisan yang sudah Tuhan buat untuk masing-masing ciptaan-Nya. Dan bagianku, aku pasrahkan sepenuhnya pada-Nya. Kadang mau tak berusaha, namun aku ingat betul ada yang berkata kepada orang tak pernah berusaha, "Percuma pasrah tapi ndak ada usaha, sama saja tong kosong nyaring bunyinya."
Jadi... kapan kesedih, kegelisah, dan ke- -an lainnya akan reda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar