Angan-angan yang menari, ternyata bisa menusuk hati.
Di sinilah aku, di sudut kamar petakku. Memandang kosong ke arah depan, dengan hati tercabik-cabik. Lihat, betapa kejamnya bayanganku sendiri mencabik-cabik ulu hatiku. Efeknya, aku pun merasakan rasa sesak di dada. Air demi air menetes dengan ringan dari kedua kelopakku. Tak sopan mereka karena tak meminta izin, main lolos begitu saja.
Setiap aku berkedip, bayanganku meremas hatiku dengan sekuat tenaga. Entah apakah ia jahil atau itu adalah perintah dari otak. Bayanganku adalah angan-angan yang selalu tersimpan di hati. Sekalinya ia keluar karena kekecewaanku pada apa yang terjadi sebenarnya, maka ia akan marah.
Kemarahan bayang-bayangku dilampiaskan pada hati malang milikku. Tentu rasanya sakit, sekali.
Bayangan, angan-angan, harapan kepada seorang insan di dunia. Seorang itu bisa dikatakan sebagai orang yang tidak peka, atau pura-pura tidak tahu saja dengan perasaanku. Aku telah memendam perasaan padanya, berapa lamanya biar aku simpan sendiri. Namun, dahulu aku sudah biasa memendam rasa padanya, memuji ia dalam diam, terkagum dalam diam, menyisipkan bumbu cinta di setiap tindakanku padanya, tapi entah mengapa saat ini rasanya berbeda.
Entah perasaanku yang sudah berubah atau perasaan ini hanya tertimbun. Lamanya aku memendam, aku tak pernah mengungkapkan perasaanku padanya. Sederhana saja alasannya, aku tak ingin hubunganku dengannya berakhir dengan hawa dingin yang mencekam.
Namun, pertanyaanku sekarang... apakah memendam rasa itu memang bisa membuat kita melukai diri sendiri, ya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar