Perkenalkan, 'Kopitiam'.

Perkenalkan.

Selasa, 21 Januari 2025

Alur Tak Beratur

Alur cerita lanjutan dari cerita kala itu masih terombang-ambing dalam benakku. Hari-hari aku habiskan berpikir keras untuk alur tak tersusun itu. Tapi aku tersadar satu hal. Jika alur sudah kususun dengan baik dan sempurna, akankah kamu membacanya? Dahulu, kamu jadi orang yang paling semangat untuk membacanya. Dahulu, kamu memegang inspirasi dari tokohku yang paling besar. Saat ini, tokoh buatanku itu mati. Sebab aku tak tahu lagi wujud dirimu yang saat ini. 

Juga apa kata orang asing yang tak mengetahui kisah kita, jika mereka melihatku menulis sebuah cerita dengan kamu sebagai inspirasinya? Ibarat kata, mungkin nantinya nasibku seperti Buya Hamka. Ditangkap atas tuduhan dan fitnah. Atau jadilah aku dijuluki penulis tak tahu diri. Meski begitu, akupun tak tahu kamu akan membelaku atau tidak karena kembali lagi, aku tak mengenalmu. Aku tak mengenal dirimu yang sekarang.

Jika aku menulis sebuah cerita dan kamu inspirasinya, bolehkah aku tuangkan rasa marah? Bolehkah aku percik cerita itu dengan air kebencian yang muncul? Bolehkah aku mengolah adonan kecewaku menjadi rangkaian kata-kata? Bagaimana perasaanmu jika membacanya?

Lihat, di sini aku masih mempertimbangkan perasaanmu. Sebab kulihat kamu bahagia bersamanya, aku tak ingin mengacaukan itu. Tak seperti kata akhir kita yang masih mengacaukan diriku sampai aku menulis ini. Aku harap ketika aku membaca tulisanku ini lagi, semuanya sudah tertata rapi. 

Bohong kalau aku tak marah, bohong kalau aku tak kecewa. Bohong kalau aku tak merindu. Dusta kalau aku tak memikirkanmu. Sangat bersalah jika kau pikir aku baik-baik saja.

Mungkin aku sudah jadi miliyader jika pikiran dalam kepala sedangku ini bisa diuangkan. Terlalu banyak pertanyaan, bayangan, dan seandainya. Bagaimana jika kita tidak berakhir, bagaimana jika aku bersimpuh saat itu, bagaimana jika aku tak teguh pendirian, bagaimana jika kita berusaha untuk memahami sekali lagi saja?

Kulihat kamu sudah bahagia, bolehkah doakan agar aku merasakannya juga? Tak perlu orang baru, aku hanya perlu diriku. Untukmu, aku belum bisa memberi doa karena aku masih terhanyut dalam rasa kecewa dan marah. Untukmu, aku harapkan saja agar kamu tak melakukan hal yang sama atau bahkan lebih buruk kepadanya yang baru.

Kembali lagi ke topik awal. Jika aku membuat ceritanya, akankah kamu baca? Jika aku sudah selesai menyusun alurnya dengan sempurna dan menghasilkan cerita yang fantastik, akankah aku bisa memberimu ceritanya untuk kamu baca? Ah sebenarnya itu tak penting. Dari segala pertanyaan itu, hanya satu yang harus dipertanyakan sebagai induk pertanyaannya.

Berhak kah aku untuk menulisnya?


Kamis, 16 Januari 2025

Sudah Lama Tak Berkabar, Apa Kabar?

 Hai. Apa kabar kalian? Aku berharap kalian baik-baik saja. Dan tolong harapkan untuk aku juga agar aku baik-baik saja.

Tahu tidak? Kalau dalam waktu beberapa bulan lagi, beratus-ratus hari lagi, aku akan meninggalkan suatu tempat. Tempat belajarku selama tiga tahun lamanya. Tak terasa, kan?

Bulan ini, bulan depan, dan bulan lusa adalah waktu-waktu terakhirku yang harus digarap dengan sungguh-sungguh. Awal bulan tahun ini adalah badai bagi anak kelas akhir. Termasuk aku dan kawan-kawan.

Tolong doakan aku selalu agar aku dapat melewati segalanya. Beberapa kejadian telah aku lewati di tahun kemarin, jadi aku berharap bisa menjadi lebih baik pada tahun ini. Omong-omong, selamat tahun baru, ya. Aku belum mengucapkannya ya? Maka dari itu, selamat tahun baru untukmu. Semoga kebaikan bisa mengisi keseharian kita di tahun ini.

Sebenarnya aku hanya ingin bercerita sedikit di sini. Bercerita tentang apa yang aku pikirkan tentang diriku di malam hari ini. Hari ini aku melihat-lihat foto lama, tulisan lama, bahkan beberapa surat lama yang aku tulis untuk para kakak kelas tersayang. 

Sampai saat ini aku masih hilang arah. Aku belum menentukan aku mau kemana dan menekuni hal itu. Hari ini aku berpikir, apa aku coba untuk cari 'hal' itu dan mulai menekuninya, ya? Pasalnya banyak sekali harapanku yang belum terpenuhi, walaupun sebenarnya bisa aku lakukan tapi aku tak mengambil kesempatan-kesempatan yang ada.

Sampai terlintas di pikiranku, apa aku terlalu banyak buang waktu, ya?

Sejujurnya aku ingin sekali memiliki teman untuk berdiskusi tentang karir, minat, ataupun bakat. Tapi aku belum menemukannya. Bagaimana, ya? Apakah aku akan menemukannya suatu hari nanti?

Dari akhir tahun kemarin sampai saat aku menulis ini, aku masih banyak sekali perdebatan dengan diriku sendiri. Jadi aku tak lagi berdebat dengan teman, keluarga, guru atau yang lainnya. Tak sesering aku berdebat dengan diriku sendiri. Pikiranku berdebat dengan hatiku, atau pikiranku berdebat dengan perutku yang menangis ketika kelaparan hahahah.

Doakan aku selalu ya. Semoga aku bisa ambis dengan caraku. Semoga aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Semoga aku tidak begini-gini saja.

Semoga.. aku tak membuang-buang waktu.