Juga apa kata orang asing yang tak mengetahui kisah kita, jika mereka melihatku menulis sebuah cerita dengan kamu sebagai inspirasinya? Ibarat kata, mungkin nantinya nasibku seperti Buya Hamka. Ditangkap atas tuduhan dan fitnah. Atau jadilah aku dijuluki penulis tak tahu diri. Meski begitu, akupun tak tahu kamu akan membelaku atau tidak karena kembali lagi, aku tak mengenalmu. Aku tak mengenal dirimu yang sekarang.
Jika aku menulis sebuah cerita dan kamu inspirasinya, bolehkah aku tuangkan rasa marah? Bolehkah aku percik cerita itu dengan air kebencian yang muncul? Bolehkah aku mengolah adonan kecewaku menjadi rangkaian kata-kata? Bagaimana perasaanmu jika membacanya?
Lihat, di sini aku masih mempertimbangkan perasaanmu. Sebab kulihat kamu bahagia bersamanya, aku tak ingin mengacaukan itu. Tak seperti kata akhir kita yang masih mengacaukan diriku sampai aku menulis ini. Aku harap ketika aku membaca tulisanku ini lagi, semuanya sudah tertata rapi.
Bohong kalau aku tak marah, bohong kalau aku tak kecewa. Bohong kalau aku tak merindu. Dusta kalau aku tak memikirkanmu. Sangat bersalah jika kau pikir aku baik-baik saja.
Mungkin aku sudah jadi miliyader jika pikiran dalam kepala sedangku ini bisa diuangkan. Terlalu banyak pertanyaan, bayangan, dan seandainya. Bagaimana jika kita tidak berakhir, bagaimana jika aku bersimpuh saat itu, bagaimana jika aku tak teguh pendirian, bagaimana jika kita berusaha untuk memahami sekali lagi saja?
Kulihat kamu sudah bahagia, bolehkah doakan agar aku merasakannya juga? Tak perlu orang baru, aku hanya perlu diriku. Untukmu, aku belum bisa memberi doa karena aku masih terhanyut dalam rasa kecewa dan marah. Untukmu, aku harapkan saja agar kamu tak melakukan hal yang sama atau bahkan lebih buruk kepadanya yang baru.
Kembali lagi ke topik awal. Jika aku membuat ceritanya, akankah kamu baca? Jika aku sudah selesai menyusun alurnya dengan sempurna dan menghasilkan cerita yang fantastik, akankah aku bisa memberimu ceritanya untuk kamu baca? Ah sebenarnya itu tak penting. Dari segala pertanyaan itu, hanya satu yang harus dipertanyakan sebagai induk pertanyaannya.
Berhak kah aku untuk menulisnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar