Seseorang itu aku temukan diantara dinginnya malam. Iya benar, perbincangan pertama kami dimulai pada dini hari. Masih teringat, saat itu, aku sedang bersenandung ria. Tak kusangka di dunia sebrang, ada seseorang yang memulai percakapan denganku. Kubalas percakapan itu dengan santai, tak ada rasa ragu dan resah di hati karena seluruh keresahanku telah terhempas akibat dendangan yang kusuarakan.
Saat itu, aku tertawa, berdecih, dan berandai apa yang salah dari orang itu. Tak kusangka juga, perbincangan kami cukup lancar. Bahkan keesokan harinya kami masih berkelahi dengan jari. Menurutku, seseorang itu sangat menyebalkan, tapi entah mengapa aku mempunyai suatu 'perasaan' yang kuat tentangnya.
Tak lama, benar saja kami menjadi dekat. Tak sebentar pula, ia menjamuku dalam hidupnya. Butuh waktu beberapa bulan untuk sampai pada saat menjamu itu. Yang sebenarnya hal itu tak pernah terpikirkan dalam hidupku, tapi sudah lama aku dambakan. Terjadilah hubungan kami yang semakin erat. Setiap harinya kami akan mengobrol, tentang hal apapun. Dari hewan sampai tumbuhan, kepala sampai kaki, ini sampai itu.
Dua badai telah kita lalui dan sampailah kita pada tempat yang berbeda. Sebagai informasi, pada tengah perjalanan, kami memutuskan untuk berpisah. Bukan karena apa, pada badai kedua yang membuat kita memutuskan untuk berpisah. Tak apa, mungkin bukan jalannya, begitu pikirku saat itu.
Aku melanjutkan hidup dengan kembali ke tempatku. Menjalani hidup semestinya seperti sebelumnya. Hanya saja, dari dunia lain sudah tak ada yang menghubungiku lagi. Aku sempat menghilang darinya, tapi aku kembali, untuk menyatakan rasa rinduku.
Saat ini kami masih terhubung, hanya saja tak seperti dulu. Tak ada yang seperti dulu, cara kami berkomunikasi, kapan kami berbincang, tak ada yang sama. Dan di saat inilah, semuanya menghantam seluruh tubuhku. Dari kaki sampai kepala, terbentur tak tersisa.
Saat ini aku tertidur dalam bilikku, dengan lampu yang redup, bisa dibilang remang-remang. Diensefalon bekerja, memutar kembali memori bersamanya. Yang membuatku tersadar beberapa hal.
Aku merasa, setiap langkah yang kuambil dan yang akan kuambil ada kaitannya dengan dirinya. Aku merasa hubungan emosional yang sangat kuat bahkan setelah perpisahan itu. Dua badai kala itu masih lekat di benakku, berputar dengan rapi segala perseteruan yang terjadi. Dan, akupun masih ada rasa berdosa sampai kini.
Sayangnya, aku tak bisa mengungkapkan sepatah kata apapun padanya. Bukan karena tak bisa, tapi aku tak siap. Reaksi dan jawabannya adalah yang paling kutakuti. Atau.. memikirkan bagaimana ia akan berpikir tentangku.. juga agak menakutkan.
Aku hanya berharap apa yang aku rasakan saat ini, akan ada ujungnya. Ntah kapan itu, tapi aku sangat penasaran dengan kala itu. Apakah aku akan duduk bersandar sambil menertawakan diriku yang saat ini? Diriku saatku menulis hal ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar