Perkenalkan, 'Kopitiam'.

Perkenalkan.

Jumat, 14 November 2025

Terjebak

 Aku tak tahu, siklus apa yang aku ciptakan sendiri, dari kecemasan, ketakutan, atau bahkan kebahagiaanku, kenyamananku sendiri. Dan aku kira hanya aku yang bisa menyelamatkanku dari sini.

Semenjak beberapa hari terakhir, atau bahkan bulan-bulan terakhir, aku telah hilang arah, hilang semangat, dan kehilangan diriku. Tak kusangka, diri yang aku bangun sedemikian rupanya juga bisa hancur di tangan kita sendiri, ya? Ternyata, tuan yang menghancurkan senjatanya sendiri itu memang benar adanya, akulah tuan itu.

Siklus kesedihan, kecemasan dan kegelisahan ini belum kutemui titik akhirnya. Bahkan titik terungkapnya pun masih samar-samar terbuka sejak kemarin-kemarin. Ntah apa yang membuatku menjadi seperti ini. Aku terus-terus memikirkan, apakah ini hanya sebuah fase atau akan ada titik akhirnya atau bahkan menjadi sebuah titik awal bagi sesuatu yang baru?

Dunia cinta yang telah tak kupahami, telah abu-abu bagiku juga sedikit mencekik. 

Ah, sebenarnya pada dunia ini harus dicekik berapa kali lagi? Harus dicekik sedemikian apa agar semuanya menemui titik akhir?

Aku rindu menuahkan kata-kata, merangkainya sedemikian rupa dengan alur bervariasi, namun rasanya berat hanya untuk menjadikannya nyata. Sebab semua kata dan maksudku berenang bebas pada pikiran yang tak kuketahui seberapa luas ia. 

Akhir tahun ini pikiranku penuh dengan karma, kepantasan, keheranan, keraguan, kebingungan, dan kepasrahan. Pathetic, isn't it? 

Alur kehidupan yang tak pernah bisa kuprediksi ini, telah aku serahkan semuanya kepada-Nya. Aku tak berharap apapun, tak berekspektasi apapun. Kalau memang sudah waktunya aku untuk jatuh pada relung terdalam dunia ini, maka aku akan jatuh. Kalau sudah waktunya aku untuk naik pada tahta teratas dunia, aku masih segan dan takut karena relung terdalam masih dapat terpampang jelas di depan mata, bukan?

Intinya, aku kan bertahan sampai bertemu dengan titik akhir. Meskipun terjebak, jatuh, ataupun bangun, akan kujalani dengan diriku yang sama. Tak peduli lelah, memang lelah, semuanya melelahkan. Apalagi terjebak adalah rasa lelah yang tak akan pernah usai, ia terjebak dalam diriku yang terjebak.

Aku Tak Paham

 Tempat yang kudambakan sedari dulu, justru menjadi tempat yang ingin aku hindari untuk selamanya. Seolah di sana tak ada kehidupan untukku, seolah di sana semua terasa gersang bagiku. Katakanlah jika aku tak bersyukur pada nikmat-Nya, tapi aku sungguh tak kuasa. Aku selalu sibuk menerka-nerka sejak hari pertama, namun nihil hasilnya kurasa. 

Kata mereka semua butuh waktu, kataku dalam hati kecilku, "Semuanya akan berlalu, ini hanyalah sebuah fase." 

Semua orang mengatakan, bahkan keyakinanku pula kalau kecepatan orang berbeda-beda, namun apakah memang kecepatanku hanya sebatas ini? Selama ini?

Jika kau tanyakan aku mengapa dan kenapa aku tak bisa berlapang dada, akupun tak tahu. Apakah ini karena tak ada pegangan untukku di tempat itu? Namun jika aku mengatakannya, orang-orang hanya akan melihatku sebagai pribadi yang tak bersyukur. Sungguh, tak bermaksud hati aku bersikap seperti ini, tapi rasanya perasaan ini tak akan usai dengan cepat seperti butiran pasir yang terhembus angin dan terbang kesana kemari begitu saja. Justru hal itu bagaikan diriku saat ini, tak ada tempat berteduh, tak ada tempat untuk berpegang. 

Rasanya berat sekali perasaan yang ada tak bisa kuungkapkan secara serius kepada siapa-siapa. Karena aku tahu, nantinya di mata mereka, aku hanya akan menjadi pribadi yang TIDAK BERSYUKUR.

Tetapi ketahuilah, bukan begitu maksudku. Maksudku, semua manusia mempunyai kekecewaan dan batas dirinya masing-masing, kan? Aku boleh untuk merasa pada titik itu, kan? Aku juga berhak untuk memiliki rasa kecewa, kan? Baik pada situasi, kondisi, ataupun diriku sendiri?

Rambutku yang rontok, bersamaan dengan mimpi-mimpi dan harapanku yang rontok. Kadang malu untuk menunjukkan muka di hadapan orang-orang lama yang mengenalku dengan jati diriku yang dahulu, namun kebalikannya, aku justru mendapat energi untuk bertahan hidup dari orang-orang itu.

Maksudku, tidak apa kan kalau sekali ini aku merasa putus asa? Kalau biasanya diriku yang memotivasi sekarang kehilangan motivasi dan arahnya? Kan katanya, 'dunia itu berputar'. 

Sabtu, 17 Mei 2025

Melukai Diri Sendiri

 Angan-angan yang menari, ternyata bisa menusuk hati.

Di sinilah aku, di sudut kamar petakku. Memandang kosong ke arah depan, dengan hati tercabik-cabik. Lihat, betapa kejamnya bayanganku sendiri mencabik-cabik ulu hatiku. Efeknya, aku pun merasakan rasa sesak di dada. Air demi air menetes dengan ringan dari kedua kelopakku. Tak sopan mereka karena tak meminta izin, main lolos begitu saja. 

Setiap aku berkedip, bayanganku meremas hatiku dengan sekuat tenaga. Entah apakah ia jahil atau itu adalah perintah dari otak. Bayanganku adalah angan-angan yang selalu tersimpan di hati. Sekalinya ia keluar karena kekecewaanku pada apa yang terjadi sebenarnya, maka ia akan marah. 

Kemarahan bayang-bayangku dilampiaskan pada hati malang milikku. Tentu rasanya sakit, sekali.

Bayangan, angan-angan, harapan kepada seorang insan di dunia. Seorang itu bisa dikatakan sebagai orang yang tidak peka, atau pura-pura tidak tahu saja dengan perasaanku. Aku telah memendam perasaan padanya, berapa lamanya biar aku simpan sendiri. Namun, dahulu aku sudah biasa memendam rasa padanya, memuji ia dalam diam, terkagum dalam diam, menyisipkan bumbu cinta di setiap tindakanku padanya, tapi entah mengapa saat ini rasanya berbeda. 

Entah perasaanku yang sudah berubah atau perasaan ini hanya tertimbun. Lamanya aku memendam, aku tak pernah mengungkapkan perasaanku padanya. Sederhana saja alasannya, aku tak ingin hubunganku dengannya berakhir dengan hawa dingin yang mencekam. 

Namun, pertanyaanku sekarang... apakah memendam rasa itu memang bisa membuat kita melukai diri sendiri, ya?

Sabtu, 03 Mei 2025

Kapan

 Kesedihan yang masih kuanggap abadi ini, kapan berakhirnya?

Perasaanku tak jelas, naik turun seperti nilai semester akhir ini. Kemarin aku bahagia, tadi pagi aku merenung, saat ini aku membeku. Dengan suara dari segala arah di kepala, aku jadi banyak berpikir. Bahkan jika aku diperbolehkan untuk menatap alam dengan kosong, aku akan. Kepala sebelah kanan mengeluarkan suara ini, sebelah kiri suara itu, semuanya menjadi satu. 

Di sisi lain aku juga sibuk berandai akan titik penghabisan rasa sedihku terhadap insan itu. Kemarin ia menghilang dari benakku, malamnya kembali lagi. Lebih malam lagi, aku terbayang-bayang hingga pagi. Dan di sinilah aku berakhir, pada siklus yang aku ciptakan sendiri. Memang ya, jika sudah berdiri dari tempat duduk di rumah makan dan hendak ke kasir lalu pergi, seharusnya aku tak duduk lagi.

Aku manusia, aku penasaran, dan aku kembali lagi ke tempat dudukku setelah membayar di kasir. Sebenarnya bisa langsung meninggalkan tempat makan dan tidak pernah kembali, tapi tempat duduk itu sangat membuatku penasaran, jadi aku berulang kali mengunjunginya dalam diam. Tapi lama-lama, terduduk di sana, mengamati dan bercengkrama dengan suasana sekitar, aku jadi tahu hal-hal yang melukai diriku sendiri. Jadi aku di tempat duduk itu, terduduk dengan kesakitan, dalam diam.

Sebuah tulisan abstrak tanpa arah ini yang aku suka. Tapi beberapa kata orang, karya sebuah seniman ataupun penulis itu mencerminkan pembuatnya. Dengan demikian, apakah aku..?

Tak tahu lah. Yang terpenting, aku percaya dengan takdir dan tulisan yang sudah Tuhan buat untuk masing-masing ciptaan-Nya. Dan bagianku, aku pasrahkan sepenuhnya pada-Nya. Kadang mau tak berusaha, namun aku ingat betul ada yang berkata kepada orang tak pernah berusaha, "Percuma pasrah tapi ndak ada usaha, sama saja tong kosong nyaring bunyinya." 

Jadi... kapan kesedih, kegelisah, dan ke- -an lainnya akan reda?

Jumat, 18 April 2025

Seseorang.

Hari-hari ini kujalani dengan tak mulus. Pikiranku mondar-mandir layaknya setrika. Kembali, pergi, kembali, dan pergi dari angan-angannya. Ini tentangnya, tentang seseorang.

Seseorang itu aku temukan diantara dinginnya malam. Iya benar, perbincangan pertama kami dimulai pada dini hari. Masih teringat, saat itu, aku sedang bersenandung ria. Tak kusangka di dunia sebrang, ada seseorang yang memulai percakapan denganku. Kubalas percakapan itu dengan santai, tak ada rasa ragu dan resah di hati karena seluruh keresahanku telah terhempas akibat dendangan yang kusuarakan. 

Saat itu, aku tertawa, berdecih, dan berandai apa yang salah dari orang itu. Tak kusangka juga, perbincangan kami cukup lancar. Bahkan keesokan harinya kami masih berkelahi dengan jari. Menurutku, seseorang itu sangat menyebalkan, tapi entah mengapa aku mempunyai suatu 'perasaan' yang kuat tentangnya.

Tak lama, benar saja kami menjadi dekat. Tak sebentar pula, ia menjamuku dalam hidupnya. Butuh waktu beberapa bulan untuk sampai pada saat menjamu itu. Yang sebenarnya hal itu tak pernah terpikirkan dalam hidupku, tapi sudah lama aku dambakan. Terjadilah hubungan kami yang semakin erat. Setiap harinya kami akan mengobrol, tentang hal apapun. Dari hewan sampai tumbuhan, kepala sampai kaki, ini sampai itu. 

Dua badai telah kita lalui dan sampailah kita pada tempat yang berbeda. Sebagai informasi, pada tengah perjalanan, kami memutuskan untuk berpisah. Bukan karena apa, pada badai kedua yang membuat kita memutuskan untuk berpisah. Tak apa, mungkin bukan jalannya, begitu pikirku saat itu.

Aku melanjutkan hidup dengan kembali ke tempatku. Menjalani hidup semestinya seperti sebelumnya. Hanya saja, dari dunia lain sudah tak ada yang menghubungiku lagi. Aku sempat menghilang darinya, tapi aku kembali, untuk menyatakan rasa rinduku.

Saat ini kami masih terhubung, hanya saja tak seperti dulu. Tak ada yang seperti dulu, cara kami berkomunikasi, kapan kami berbincang, tak ada yang sama. Dan di saat inilah, semuanya menghantam seluruh tubuhku. Dari kaki sampai kepala, terbentur tak tersisa. 

Saat ini aku tertidur dalam bilikku, dengan lampu yang redup, bisa dibilang remang-remang. Diensefalon bekerja, memutar kembali memori bersamanya. Yang membuatku tersadar beberapa hal.

Aku merasa, setiap langkah yang kuambil dan yang akan kuambil ada kaitannya dengan dirinya. Aku merasa hubungan emosional yang sangat kuat bahkan setelah perpisahan itu. Dua badai kala itu masih lekat di benakku, berputar dengan rapi segala perseteruan yang terjadi. Dan, akupun masih ada rasa berdosa sampai kini.

Sayangnya, aku tak bisa mengungkapkan sepatah kata apapun padanya. Bukan karena tak bisa, tapi aku tak siap. Reaksi dan jawabannya adalah yang paling kutakuti. Atau.. memikirkan bagaimana ia akan berpikir tentangku.. juga agak menakutkan. 

Aku hanya berharap apa yang aku rasakan saat ini, akan ada ujungnya. Ntah kapan itu, tapi aku sangat penasaran dengan kala itu. Apakah aku akan duduk bersandar sambil menertawakan diriku yang saat ini? Diriku saatku menulis hal ini.


Selasa, 18 Maret 2025

I remember

 I remember you, us, in every corner of my room, mind, and hearts.

Oh I remember the first time I saw you and I know you will be it.

I remember how I'd feel about you for the very first time, wondering will you be it?

Oh.. I remember how I've been dreaming and wondering about many things that could be happen between us.

Oh I still remember how it feels.

I swear.

Your ghost have been haunting me.

Your ghost was with me all the time, we've spent so much time together. It is almost like I would do so if I could date your ghost.

Oh I wonder, I wonder why would God wrote the chapter of our life where we met each other.

Can you find and tell me the reasons?

Maybe it is just me that already feel you from the first time.

From the first time, since we talked, I felt that you will be it.

I wonder if you'd feel the same? I assume that you did not.

Oh when, when, when will I ever get rid of your ghost?

Please, tell me if you're feeling the same way as I do.

If you don't, then why do I feel that way anyway? Am I being too dramatic? Or is it just you that are less dramatic than me?

Selasa, 21 Januari 2025

Alur Tak Beratur

Alur cerita lanjutan dari cerita kala itu masih terombang-ambing dalam benakku. Hari-hari aku habiskan berpikir keras untuk alur tak tersusun itu. Tapi aku tersadar satu hal. Jika alur sudah kususun dengan baik dan sempurna, akankah kamu membacanya? Dahulu, kamu jadi orang yang paling semangat untuk membacanya. Dahulu, kamu memegang inspirasi dari tokohku yang paling besar. Saat ini, tokoh buatanku itu mati. Sebab aku tak tahu lagi wujud dirimu yang saat ini. 

Juga apa kata orang asing yang tak mengetahui kisah kita, jika mereka melihatku menulis sebuah cerita dengan kamu sebagai inspirasinya? Ibarat kata, mungkin nantinya nasibku seperti Buya Hamka. Ditangkap atas tuduhan dan fitnah. Atau jadilah aku dijuluki penulis tak tahu diri. Meski begitu, akupun tak tahu kamu akan membelaku atau tidak karena kembali lagi, aku tak mengenalmu. Aku tak mengenal dirimu yang sekarang.

Jika aku menulis sebuah cerita dan kamu inspirasinya, bolehkah aku tuangkan rasa marah? Bolehkah aku percik cerita itu dengan air kebencian yang muncul? Bolehkah aku mengolah adonan kecewaku menjadi rangkaian kata-kata? Bagaimana perasaanmu jika membacanya?

Lihat, di sini aku masih mempertimbangkan perasaanmu. Sebab kulihat kamu bahagia bersamanya, aku tak ingin mengacaukan itu. Tak seperti kata akhir kita yang masih mengacaukan diriku sampai aku menulis ini. Aku harap ketika aku membaca tulisanku ini lagi, semuanya sudah tertata rapi. 

Bohong kalau aku tak marah, bohong kalau aku tak kecewa. Bohong kalau aku tak merindu. Dusta kalau aku tak memikirkanmu. Sangat bersalah jika kau pikir aku baik-baik saja.

Mungkin aku sudah jadi miliyader jika pikiran dalam kepala sedangku ini bisa diuangkan. Terlalu banyak pertanyaan, bayangan, dan seandainya. Bagaimana jika kita tidak berakhir, bagaimana jika aku bersimpuh saat itu, bagaimana jika aku tak teguh pendirian, bagaimana jika kita berusaha untuk memahami sekali lagi saja?

Kulihat kamu sudah bahagia, bolehkah doakan agar aku merasakannya juga? Tak perlu orang baru, aku hanya perlu diriku. Untukmu, aku belum bisa memberi doa karena aku masih terhanyut dalam rasa kecewa dan marah. Untukmu, aku harapkan saja agar kamu tak melakukan hal yang sama atau bahkan lebih buruk kepadanya yang baru.

Kembali lagi ke topik awal. Jika aku membuat ceritanya, akankah kamu baca? Jika aku sudah selesai menyusun alurnya dengan sempurna dan menghasilkan cerita yang fantastik, akankah aku bisa memberimu ceritanya untuk kamu baca? Ah sebenarnya itu tak penting. Dari segala pertanyaan itu, hanya satu yang harus dipertanyakan sebagai induk pertanyaannya.

Berhak kah aku untuk menulisnya?


Kamis, 16 Januari 2025

Sudah Lama Tak Berkabar, Apa Kabar?

 Hai. Apa kabar kalian? Aku berharap kalian baik-baik saja. Dan tolong harapkan untuk aku juga agar aku baik-baik saja.

Tahu tidak? Kalau dalam waktu beberapa bulan lagi, beratus-ratus hari lagi, aku akan meninggalkan suatu tempat. Tempat belajarku selama tiga tahun lamanya. Tak terasa, kan?

Bulan ini, bulan depan, dan bulan lusa adalah waktu-waktu terakhirku yang harus digarap dengan sungguh-sungguh. Awal bulan tahun ini adalah badai bagi anak kelas akhir. Termasuk aku dan kawan-kawan.

Tolong doakan aku selalu agar aku dapat melewati segalanya. Beberapa kejadian telah aku lewati di tahun kemarin, jadi aku berharap bisa menjadi lebih baik pada tahun ini. Omong-omong, selamat tahun baru, ya. Aku belum mengucapkannya ya? Maka dari itu, selamat tahun baru untukmu. Semoga kebaikan bisa mengisi keseharian kita di tahun ini.

Sebenarnya aku hanya ingin bercerita sedikit di sini. Bercerita tentang apa yang aku pikirkan tentang diriku di malam hari ini. Hari ini aku melihat-lihat foto lama, tulisan lama, bahkan beberapa surat lama yang aku tulis untuk para kakak kelas tersayang. 

Sampai saat ini aku masih hilang arah. Aku belum menentukan aku mau kemana dan menekuni hal itu. Hari ini aku berpikir, apa aku coba untuk cari 'hal' itu dan mulai menekuninya, ya? Pasalnya banyak sekali harapanku yang belum terpenuhi, walaupun sebenarnya bisa aku lakukan tapi aku tak mengambil kesempatan-kesempatan yang ada.

Sampai terlintas di pikiranku, apa aku terlalu banyak buang waktu, ya?

Sejujurnya aku ingin sekali memiliki teman untuk berdiskusi tentang karir, minat, ataupun bakat. Tapi aku belum menemukannya. Bagaimana, ya? Apakah aku akan menemukannya suatu hari nanti?

Dari akhir tahun kemarin sampai saat aku menulis ini, aku masih banyak sekali perdebatan dengan diriku sendiri. Jadi aku tak lagi berdebat dengan teman, keluarga, guru atau yang lainnya. Tak sesering aku berdebat dengan diriku sendiri. Pikiranku berdebat dengan hatiku, atau pikiranku berdebat dengan perutku yang menangis ketika kelaparan hahahah.

Doakan aku selalu ya. Semoga aku bisa ambis dengan caraku. Semoga aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Semoga aku tidak begini-gini saja.

Semoga.. aku tak membuang-buang waktu.


Sabtu, 21 Desember 2024

Kembali

 Aku kembali pada jalan yang tak ingin kujalani.

Jalan yang selalu ingin kuhindari, justru kuhampiri kali ini.

Dahulu susah payah kujauhi jalan ini.

Jalan tak bercahaya yang menghisap segala.

Membuat diriku melihat dan berjalan tak tahu arah lagi.

Oh Tuhan, oh semesta.. apa yang harus aku lakukan?

Aku marah dengan diriku karena telah mengemudi sampai di sini.

Aku marah karena bekal yang kusiapkan dari rumah tak ada gunanya saat ini.

Aku tak bisa mengungkapkannya ke siapa-siapa.

Terlebih, emosiku meluap ketika melihat teman pengemudiku hilang. 

Padahal, dia yang menemaniku sampai jalan gelap ini.

Sampai jalan yang aku tak pernah ingin kembali.

Ingin sekali aku tutup akses jalan ke jalan gelap itu.

Mungkin di kemudian hari, aku harus melakukan.

Saat ini, doakan aku selamat.

Selamat dari jalan yang aku sama sekali tak ingin kembali.